Siapa Itu Sesosok Jayjax di Dunia Malam Jakarta?
Siapa Itu Sesosok Jayjax di Dunia Malam Jakarta? Di tengah gemerlap dunia malam Jakarta yang tak pernah tidur, nama JayJax muncul sebagai salah satu figur yang semakin mencuri perhatian. Pada akhir 2025, kolaborasi terbarunya dalam single “Cowok Red Flag” bersama duo DNA dan penyanyi rap QG berhasil mengguncang chart musik elektronik, menarik ribuan pendengar di platform streaming. DJ berusia awal 30-an ini, yang memulai perjalanan dari hobi sederhana, kini menjadi ikon di kalangan pecinta pesta malam. Dengan penampilan panggung yang energik dan gaya mixing kreatif, JayJax mewakili generasi baru musisi elektronik Indonesia yang memadukan ritme global dengan sentuhan lokal. Artikel ini mengupas siapa dia sebenarnya, dari akar rumput hingga sorotan terkini, tanpa meninggalkan nuansa misterius yang melekat pada sosoknya di balik booth DJ. BERITA BOLA
Awal Karier dari Hobi ke Panggung Kompetisi: Siapa Itu Sesosok Jayjax di Dunia Malam Jakarta?
JayJax, atau Jaya dalam kehidupan sehari-hari, lahir di Sidoarjo dan memulai petualangan musiknya pada 2015 sebagai hobi belaka. Saat itu, dia masih mahasiswa di Jakarta, bereksperimen dengan peralatan DJ sederhana di kamar kosan. Tak butuh waktu lama, bakatnya terasah melalui kompetisi lokal yang sering diadakan di klub-klub kecil sekitar ibu kota. Dari 2015 hingga 2019, ia rutin mengikuti ajang-ajang tersebut, meraih posisi juara dua dan tiga berkali-kali. Pengalaman ini membentuk fondasi solid: belajar membaca kerumunan, menyesuaikan beat dengan mood malam, dan membangun ketahanan mental di tengah tekanan kompetitif. “Itu masa di mana saya belajar bahwa DJ bukan hanya soal teknik, tapi juga cerita yang disampaikan lewat suara,” ungkapnya dalam wawancara santai. Transisi dari pemula ke semi-profesional ini membuka pintu ke jaringan lebih luas, termasuk pertemuan dengan senior-senior yang membantunya naik kelas.
Perubahan Nama dan Bergabung ke Lingkaran Elite: Siapa Itu Sesosok Jayjax di Dunia Malam Jakarta?
Pada 2019, JayJax mengubah identitas panggungnya dari DJ Holy menjadi DJ JayJax, sebuah keputusan strategis untuk mencerminkan evolusi gayanya yang lebih matang dan berani. Perubahan ini bertepatan dengan momen krusial: ia bergabung sebagai DJ residen di salah satu grup hiburan malam terbesar di Jakarta. Dibantu oleh seorang senior bernama Om David, ia mulai tampil secara rutin di berbagai venue, dari pusat kota hingga tur keliling Pulau Jawa. Pengalaman berkeliling naik minibus bersama tim, mengunjungi outlet-outlet di Semarang, Surabaya, hingga Bandung, menjadi cerita legendaris baginya. “Itu seperti road trip musik, di mana setiap kota punya ritme sendiri,” ceritanya. Sejak itu, penampilannya yang memukau—dengan transisi beat tak terduga dan interaksi langsung dengan penonton—membuatnya naik daun. Pada 2022, ia sudah punya pengikut puluhan ribu di media sosial, menandai transisi dari pemain lokal ke bintang nasional di dunia malam yang kompetitif.
Gaya Musik dan Dampak di Scene Elektronik Jakarta
Yang membuat JayJax menonjol adalah pendekatan creative mixing-nya, di mana ia memadukan house, techno, dan elemen EDM dengan sampel suara lokal seperti gamelan atau irama dangdut modern. Di Jakarta, di mana scene malam didominasi ritme internasional, gaya ini seperti angin segar yang membuat pesta terasa lebih personal. Penampilannya sering berlangsung hingga dini hari, dengan setlist yang disesuaikan real-time berdasarkan energi kerumunan—dari build-up tegang hingga drop euforia yang bikin lantai dansa bergoyang. Dampaknya terasa di kalangan anak muda urban: banyak DJ muda yang terinspirasi, dan event-event besar kini rutin mengundangnya sebagai headliner. Tantangan terbesar baginya adalah konsistensi di industri yang berubah cepat, seperti tren TikTok dance yang memengaruhi permintaan lagu pendek. Namun, justru ini yang mendorongnya bereksperimen, menghasilkan aransemen yang tak hanya menghibur tapi juga inovatif.
Kolaborasi Terkini dan Visi ke Depan
Akhir 2025 menjadi puncak baru bagi JayJax dengan rilis single “Cowok Red Flag” pada Juli, hasil kolaborasi dengan duo DNA—yang terdiri dari dirinya dan Mister Aloy—serta QG, rapper berbakat yang menambahkan lirik tajam tentang dinamika hubungan modern. Lagu ini, dengan beat catchy dan pesan relatable, langsung viral di kalangan Gen Z, mencapai jutaan stream dalam minggu pertama. Rilis party di salah satu klub elite SCBD Jakarta pada 23 Juli lalu menjadi malam ikonik, di mana penonton bernyanyi bersama hingga larut. Kolaborasi ini bukan kebetulan; JayJax selalu mencari mitra yang bisa saling melengkapi, seperti QG yang diburu via DM spontan. Ke depan, ia berencana fokus produksi: merilis lagu orisinal lebih banyak, termasuk album mini yang menggabungkan elemen live instrument. “Saya ingin DJ bukan lagi hanya spin, tapi ciptakan cerita lengkap,” katanya. Selain itu, ia terus berbagi ilmu via Instagram, TikTok, dan YouTube, dengan tutorial mixing yang sudah diikuti ribuan calon DJ.
Kesimpulan
JayJax bukan sekadar DJ di balik deck; ia adalah narator malam Jakarta yang penuh cerita, dari hobi remaja hingga ikon elektronik saat ini. Dengan perjalanan penuh liku, gaya unik, dan kolaborasi segar seperti “Cowok Red Flag”, ia membuktikan bahwa dunia malam ibu kota punya ruang untuk talenta lokal yang autentik. Bagi pecinta pesta, JayJax adalah pengingat bahwa musik bisa menyatukan, menghibur, dan menginspirasi. Saat 2026 mendekat, pantau saja—mungkin malam berikutnya di Jakarta, beat-nya lagi-lagi akan menggema, mengajak semua ikut bergoyang. Di tengah hiruk-pikuk urban, sosok ini tetap rendah hati, siap menaklukkan panggung lebih besar lagi.